v2.0
|

Berita SKPD

Obati Pasien Stroke hingga Sembuh
29-01-2019 | Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.

Pasien RSUD Blambangan Banyuwangi terlihat sumringah saat bisa berjalan kembali setelah dinyatakan terkena stroke. Pasien tersebut dilakukan penanganan yakni terapi trombolisis. Perlu diketahui bahwasanya Stroke dapat terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah (iskemik) atau pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah (hemoragik). Kecepatan waktu penanganan merupakan aspek terpenting dalam manajemen stroke, waktu untuk penanganan stroke penting untuk menentukan jenis terapi yang tepat pada pasien.

Kecepatan waktu dalam penanganan stroke memang sangat mempengaruhi besar atau kecilnya kerusakan saraf yang akan terjadi. 2 juta sel saraf mati setiap menitnya pada pasien dengan stroke, mengakibatkan risiko kerusakan otak permanen, kecacatan, ataupun kematian.

Dokter Spesialis Syaraf RSUD Blambangan, dr.Indah Ari Handayani, Sp.S menyebutkan bahwa sektiar 70-80 persen kasus stroke terjadi karena penyumbatan. Oleh karena itu, di RSUD Blambangan dilakukan terapi pemberian obat penghancur sumbatan (bekuan darah) yang disebut trombolisis.

Otak itu beberapa menit saja tidak mendapat aliran darah, dia akan rusak. Nah rusaknya permanen, tidak bisa kembali baik. Jadi kalo dia datang ke rumah sakit, bagaimana melepaskan sumbatan itu prinsipnya.”

Pemberian obat dilakukan setidaknya kurang dari golden period atau waktu 3 jam. Persiapan sudah mulai dilakukan sejak pasien masuk lewat pintu rumah sakit sampai disuntikkan obat ditargetkan selesai dalam satu jam (door to needle.)

Beberapa minggu yang lalu ada seorang pasien yang mengalami stroke saat beliau ada di sawah, dan saat itu juga keluarga pasien langsung membawa ke UGD RSUD Blambangan Banyuwangi. Perjalanan tersebut memakan waktu 40 menit. Pasien tersebut datang dengan kondisi tangan dan kaki kanan tidak bisa digerakkan, bahkan berkedut saja tidak bisa. Setelah itu dokter jaga UGD langsung menghubungi dokter spesialis syaraf dr.Indah Ari Handayani, Sp.S.

Sesuai dengan advis dokter, pasien segera dilakukan cek tekanan darah dan segera diberikan obat untuk menurunkan darah tingginya, lalu pasien juga dilakukan pemeriksaan penunjang yakni Laboratorium dan CT Scan. Pemeriksaan Laboratorium untuk memastikan bahwasanya pasien tersebut tidak menderita kelebihan kadar gula dalam tubuh, maupun penyulit lain, sedangkan pemeriksaan CT Scan adalah untuk memastikan akibat stroke tersebut adalah bukan karena perdarahan.

Setelah semua memenuhi syarat untuk dilakukannya terapi trombolisis, barulah dokter spesialis syaraf dapat memasukkan obat (alteplase) melalui pembuluh darah. Setelah dilakukan terapi trombolisis, pasien harus tetap dievaluasi agar tidak terjadi perdarahan, pasien juga harus tetap diajak berkomunikasi untuk menjaga kesadarannya dan dilakukan cek anggota gerak pasien.

Pasien tersebut mengalami kemajuan yang cukup baik dan cukup pesat yakni dari yang awalnya tidak bisa digerakkan, setelah dimasukkan obat alteplase tersebut, anggota gerak sudah mulai bisa digerakkan. Hari kedua pasien sudah bisa duduk dan Hari ketiga pasien sudah bisa jalan dan pulang dalam keadaan tidak ada kelemahan sama sekali.(*)