v2.0
|

Berita SKPD

Layanan Dokter Spesialis Bedah Syaraf RSUD Blambangan
07-02-2019 | Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.

Di awal tahun 2019 ini, RSUD Blambangan terus melakukan perbaikan dalam bidang pelayanan maupun sarana prasarana. Hal tersebut dilakukan, karena mengingat pasien maupun keluarga saat ini sudah banyak yang kritis dan terbuka wawasannya mengenai dunia kesehatan dengan adanya informasi-informasi melalui tekhnologi yang semakin canggih.

Hal tersebut yang melatar belakangi pihak RSUD Blambangan tidak asal pilih dalam merekrut dokter dan tim medis lainnya serta karyawan/karyawati untuk dapat bergabung di RSUD Blambangan. Salah satu dokter yang saat ini hanya ada 1 di Banyuwangi yakni dokter Spesialis Bedah Syaraf.

Sejak Tahun 2017 lalu, pasien dengan Gegar Otak tidak lagi perlu dirujuk ke Jember, karena RSUD Blambangan telah memiliki Dokter Spesialis Bedah Syaraf untuk menangani masalah trauma kepala dan berbagai penyakit seperti kasus yang bisa ditangani meliputi : Trauma kepala (kecelakaan  lalu lintas maupun kecelakaan kerja), Stroke perdarahan, Kelainan bawaan lahir (hydrocephalus/penumpukan cairan di kepala, meningocele, spina bifida/tulang belakang terbuka) dan Tumor Otak.

Untuk mendukung firman menegakkan sebuah diagnose penyakit pasien, dilakukan pemeriksaan CT-Scan. RSUD Blambangan juga telah memiliki CT-Scan dengan kualifikasi yang bagus yakni dapat mendeteksi kelainan otak dan jaringannya secara 3 dimensi, yang hasilnya lebih unggul dibandingkan hasil foto konvensional. Sehingga, firman yang juga alumnus Bedah Syaraf Fakultas  Farmasi Unair ini juga mampu melakukan berbagai operasi yang dibutuhkan oleh pasien.

Menurut firman, kasus yang tersulit yang pernah ditangani adalah Tumor Otak. Untuk kasus tumor Otak saat ini jumlahnya semakin bertambah, karena pasien-pasien yang sebelumnya dirujuk oleh sejawat ke surabaya, saat ini mulai banyak yang dirujuk ke RSUD Blambangan.

Tetapi firman juga mengungkapkan masih adanya kendala pelayanan saat Tumor Otak tersebut letaknya sangat dalam, ia tidak bisa melakukannya di Banyuwangi dikarenakan tidak ada mikroskop pendukung khusus untuk kasus tersebut, sehingga selama ini ia masih merujuk ke Surabaya jika ditemui kasus seperti itu. (*)